Yang Pertama

Yang pertama hampir selalu spesial dan utama. Kita pastinya masih ingat barang pertama yang kita beli pakai uang sendiri misalnya, atau kado ulang tahun pertama dari teman kita, atau (dan tentu saja) cinta pertama kita. Hal yang pertama dianggap spesial karena ia berharga. Ia menjadi langkah awal dari sekian langkah yang akan kita jalani.

Dalam al-Qur’an, ayat yang pertama turun juga sangatlah spesial. Surat al-‘Alaq ayat satu sampai lima tersebut menjelaskan rumus terbesar yang harus pertama kali diterapkan oleh manusia. Iqra’, bacalah !!! itu perintah pertama buat manusia.

Membaca adalah pesan cinta Allah pertama dalam al-Qur’an buat hambaNya. Pesan berupa perintah membaca tersebut diikat dengan kait “Bacalah Nama Tuhanmu”. Itu rumus dasar kehidupan. Allah Swt mengajak manusia untuk pertama kalinya membaca nama Tuhan. Setelah pesan pertama tersebut, Allah kemudian mengajak manusia untuk memikirkan kejadian dirinya, “Bacalah Nama Tuhanmu yang telah menjadikan, telah menjadikan manusia dari segumpal darah”.  Sungguh pesan pertama yang indah, bermakna dan berharga. Begitu romantis…

***

Dalam luasnya kalam Rasulullah Saw, ada salah satu hadits yang indah. Hadits tersebut juga berkaitan dengan keindahan dan kespesialan tema “pertama”. Hadits yang saya maksudkan dikenal dengan istilah “Hadits musalsal bil awwaliyah” atau hadits musalsal yang diikat dengan kalimat awal (yaitu kalimat اول ما سمعت منه / hadits pertama yang saya dengar darinya).

Ceritanya, hadits ini pertama kali saya dengar saat mengikuti pengajian pertama kali bersama Syaikh Usamah Sayyid Al-Azhari. Hadits tersebut menjadi pembuka pengajian kitab Syamail Muhammadiyah karangan Imam At-Tirmidzi di Masjid Al-Azhar Asy-Syarif. Hadits tersebut berbunyi:

الرَّاحمُونَ يَرحمُهُم الرّحمنُ ارْحَموا مَنْ في الأرض يرحمْكُم - وفي رواية يرحمُكُم- من في السَّماءِ"
“Orang-orang yang yang penuh kasih-sayang akan dikasih-sayangi oleh Allah. Hendaklah kalian semua menyayangi semua yang ada di bumi, agar kalian disayangi oleh para penghuni langit.”

Ini adalah hadits yang saya dengar langsung dari Syaikh Usamah. Dan menurut beliau hadits ini seolah-olah menjadi hadits pertama yang didengar seseorang dari syaikhnya dalam proses menuntut ilmu. Itulah kenapa hadits ini selalu dibacakan dan diijazahkan seorang syaikh pada setiap awal pembukaan pengajian.

Lihat betapa indahnya pesan Rasulullah Saw pertama yang diperdengarkan oleh seorang guru kepada muridnya. Pesan tentang kasih sayang, tentang cinta, tentang sifat-sifat yang lahir dari seseorang yang sudah berlinang sifat Rahman Rahim.

***

Yang pertama biasanya mewakili apa yang akan muncul setelahnya. Langkah pertama sangat menentukan keseluruhan langkah-langkah yang kita jalani nantinya. Pesan pertama Al-Qur’an adalah membaca, membaca Nama Allah, membaca dengan Nama Allah dan membaca penciptaan serta kejadiannya. Itulah kenapa garis besar Al-Qur’an adalah tentang proses membaca (yang dikembangkan dalam proses ilmu), membaca Nama Allah (yang dikembangkan dalam proses Akidah, Tauhid dan SyariahNya), membaca dengan Nama Allah (yang dikembangkan dalam bentuk Ihsan) dan membaca penciptaan (yang dikembangkan dalam berbagai disiplin ilmu baik sains maupun social).

Begitu pula pesan pertama hadits di atas. Ia seolah mewakili bahwa inti ajaran Rasulullah Saw adalah tentang kasih sayang. Tak heran kalau Al-Qur’an melegitimasi hal ini lewat firmanNya “Dan tiadalah Kami mengutusmu wahai Muhammad melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (Q.S.Al-Anbiya’ : 107). Sejarah pun mencatat bahwa catatan kehidupan Rasulullah Saw tidak pernah lepas dari tema kasih sayang.

***

Lalu apa yang saya tulis ini ? entahlah. Saya sebenarnya Cuma ingin menyampaikan sekaligus berdoa bahwa tulisan pertama saya di blog berbayar berdomain baru ini dapat menjadi awal baru kembali dalam dunia tulis menulis. Saya berharap bahwa tulisan pertama di blog berdomain pribadi pertama ini dapat menjadi awal semangat, awal langkah untuk sekian langkah ke depannya.



Semoga blog ini dapat membagikan manfaatnya. Aamiien (sudah itu saja, muqaddimah nya kayak muqaddimah Ibnu Khaldun kah ?)

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment

Silahkan beri komentar, masukan, kritikan

Back
to top