Ulul Albab, Intelektual Istimewa


Cukup susah untuk mendefinisikan kata Ulul Albab. Secara bahasa, Ulu merupakan bentuk plural dari Al yang artinya: Orang-orang yang memiliki. Sedangkan kata albab merupakan bentuk plural dari Lubb yang berarti: Inti, pokok, esensi, saripati. Lubb juga bisa diartikan  Jadi kata ulul albab kalau diartikan secara bahasa bermakna “Orang-orang yang memiliki inti, pokok, esensi dan saripati sesuatu”.

Ada banyak pakar yang mencoba memberikan tawaran definisi terhadap istilah Ulul Albab. Dari sekian banyak definisi, tawaran Imam Ibnu Katsir yang cenderung saya pilih. Imam Ibnu Katsir menafsirkan Ulul Albab sebagai golongan yang mempunyai pemikiran yang bersih lagi sempurna sehingga mampu memahami hakikat suatu perkara secara benar,  yang menyelamatkan kehidupan mereka di dunia dan di akhirat. Jadi kesimpulannya bagi saya, Ulul Albab adalah Intelektual Istimewa. Tidak hanya sekedar memiliki akal, memiliki pemikiran. Namun akal yang ia miliki, pemikiran yang mereka hasilkan sangatlah bersih dan murni sehingga mereka mampu memahami inti atau saripati dari sesuatu secara benar.

Al-Qur’an mengulang penyebutan Ulul Albab sebanyak 16 kali. Namun bagi saya, penyebutan Ulul Albab pada surat Ali Imran ayat 190 cukup memberikan kita gambaran utuh tentang ciri-ciri kelompok intelektual istimewa tersebut. Penyebutan ciri-ciri ulul albab pada ayat ini di lanjutkan dengan ciri-cirinya pada empat ayat setelahnya, sehingga menjadi ayat yang paling lengkap dalam mendeskripsikan ulul albab ketimbang pada ayat lainnya.

Allah Swt berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ(190)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ(191)رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍرَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ ءَامِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ(193)رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (194)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji." (Q.S. Ali Imran 3:190-194)

Dalam kelompok ayat diatas, Allah Swt memulai penyebutan ciri ulul albab dengan menyebutkan objek kajian yang ada di depan mata manusia (yakni penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang) dan kemudian mengatakan bahwa pada hal tersebut ada tanda-tanda yang hanya bisa diketahui oleh ulul albab. Di sini kita dapat lihat korelasi antara istilah ulul albab dan intelektual. Dalam kehidupan hari ini, orang-orang yang mengkaji hal diatas memang disebut dengan intelektual atau sarjana. Namun apakah setiap intelek adalah ulul albab ? belum tentu. Ayat selanjutnya menjelaskan dengan gamblang beberapa ciri pokok seorang intektual hingga ia baru bisa disebut ulul albab.

Pertama, Ulul Albab adalah orang yang senantiasa berzikir kepada Allah SWT di mana saja berada dan situasi kondisi bagaimana pun (الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ). Berzikir dalam artian sempit bisa kita maknai dengan pelaksanaan ibadah-ibadah mahdhah seperti shalat, tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan lain-lain. Namun dalam makna yang lebih luas, berzikir adalah selalu menjadikan setiap usahanya sebagai upaya untuk mengingat Allah. Seorang ulul albab adalah yang tidak pernah putus dan berhenti dalam mengingat Allah. Ia mengingat Allah sebelum melakukan sesuatu (yang mempengaruhi kebersihan niatnya serta kematangan rencananya), lalu ia mengingat Allah dalam proses pelaksanaan sesuatu (yang mempengaruhi sikap dan etos kerjanya), kemudian ia masih senantiasa mengingat Allah setelah hal tersebut terlaksana (konsep tawakkul). Kontinyuitas dalam mengingat Allah menjadi kekuatan, spirit serta rambu-rambu dalam pelaksanaan usahanya.

Kedua, seorang Ulul Albab Tiada henti-hentinya mengembangkan ilmu, meningkatkan kualitas ilmu dan metodologi ilmu pengetahuan (وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ). Langit dan bumi adalah objek kajian yang begitu luas. Keduanya serta hal-hal yang terdapat di dalamnya bersifat dinamis, selalu berubah dan bergerak setiap saat. Hal ini tentu saja mempengaruhi kehidupan manusia. Maka ulul albab menjadikan dinamisnya langit, bumi dan seisinya sebagai usaha untuk terus mengembangkan ilmu serta meningkatkan kualitasnya. Tentu saja, tetap berlandaskan kepada ciri pertama tadi, bahwa dalam usahanya ia tetap selalu berzikir, mengingat Allah, menjadikan Allah sebagai segala-galanya.

Ketiga, Selalu bersikap insyaf atas setiap yang terjadi
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191) رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (192) رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ (193) رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (194(
Ulul Albab adalah orang yang insyaf. Ia selalu berusaha bersikap objektif, mengakui kekuatan dan kelemahan dirinya. Sikap inilah yang menjadikan usahanya sangat produktif hingga bisa mencapai saripati dari pengetahuan. Sikap insyaf yang ia miliki menjadikan ulul albab adalah orang yang cenderung menjauhi prilaku negatif dan menyimpang, serta akan segera kembali ke jalan Allah manakala ia tersesat.


Ketiga ciri ini adalah ciri utama dari ulul albab. Pengetahuan yang ia miliki bersifat komprehensif dan membumi. Orientasinya jauh ke depan. Dimensi ketuhanan pun tidak pernah lepas darinya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan ulul albab, intelektual istimewa

NB: Sebenarnya tulisan ini menjadi pengantar suatu kajian, namun karena sedang tidak mood, maka tulisan saya cukupkan sampai disini saja dulu :D

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment

Silahkan beri komentar, masukan, kritikan

Back
to top