Amr Yang Terzhalimi
Salah satu kata yang sering keliru
dalam penerjemahannya adalah kata عمرو
yang diterjemahkan dengan Umar. Padalah kata Umar (عمر) berbeda dengan عمرو
yang memakai huruf waw pada akhirnya. Terjemahan yang tepat dari kata عمرو
adalah Amr seperti nama sahabat yang masyhur Amr bin al-‘Ash.
Yang menarik adalah kenapa ada huruf waw ?
Para ulama bahasa Arab menyebutkan bahwa alasan penambahan huruf waw
adalah untuk membedakannya dengan kata Umar tadi (عمر).
Yang menarik lagi adalah sebenarnya huruf waw tersebut tidak memberi pengaruh
sama sekali dalam kaedah gramatikal bahasa Arab, baik itu dari sisi ilmu nahwu
ataupun sharf. Murni dengan tujuan membedakannya dengan Umar, yaitu ketika kata
tersebut dalam posisi rafa’ atau khafad/jarr. Sedangkan ketika nashab, huruf
waw tersebut tidak ada. Kenapa ? karena Umar adalah isim yang tidak bertanwin
(karena termasuk ‘alam ma’dul). Dalam posisi nashab, Umar tetap ditulis عمر
tanpa alif rasm nashab, sedangkan Amr ditulis عمرا.
Amr yang terzhalimi
Kata Amr (عمرو)
adalah salah satu kata yang sering dijadikan contoh dalam kitab ilmu nahwu dan
sharf. Kemunculan kata Amr hampir sebanyak kata Zaid (زيد).
Menurut para guru kita, penggunaan kata Zaid dalam contoh ilmu nahwu dan sharf
memiliki filosofi tersendiri. Kata Zaid merupakan salah satu derivasi dari
bentuk زاد – يزيد – زيدا yang
secara bahasa berarti bertambah. Menurut guru kita, hal ini menyiratkan adanya
doa untuk para pelajar agar ilmunya senantiasa bertambah, selalu bertambah
sebagaimana seringnya kata Zaid ditemukan.
Lalu apa filosofi dari kata Amr (عمرو) ?
Ada sebuah kisah tentang hal ini.
Kisah ini -terlepas benar atau tidaknya- menyebutkan alasan tersebut. Kisah ini
menurut sebagian orang terjadi pada zaman khilafah Bani Abbas ketika kekuasaan
Khalifah Harun al-Rasyid, dan sebagian lagi mengatakan terjadi pada zaman
khilafah Utsmaniyah (Ottoman).
Dikisahkan salah seorang Menteri
Kerajaan bernama Daud ingin mempelajari kaedah bahasa Arab. Lalu dia
menghadirkan salah seorang ulama di negerinya. Ia pun memulai mempelajari
kaedah nahwu dan sharf sebagaimana biasa dipelajari.
Suatu hari dia bertanya kepada
gurunya,
"apa kesalahan si Amr sampai si
Zaid memukulnya tiap hari (ضرب زيد عمرا)
?”
"apakah derjat Amar lebih
rendah dari Zaid sehingga Zaid bebas memukulnya, menyiksanya dan Amr tidak bisa
membela dirinya ?"
Sang Menteri menanyakan hal ini sembari
menghentakkan kakinya ke tanah sambil marah.
Gurunya menjawab :"tidak ada yang
dipukul ,tidak ada yang memukul wahai Menteri. Ini cuma permisalan saja yang
dibuat ulama nahwu supaya memudahkan dalam mempelajari ilmu bahasa itu"
Jawaban ini ternyata tidak memuaskan
sang Menteri. Dia marah lalu memenjarakan gurunya tersebut.
Sang Menteri kemudian menyuruh
bawahannya untuk mencari ulama nahwu yang lain. Dia lalu memberikan pertanyaan
yang sama kepada mereka, dan jawaban mereka pun ternyata tidak jauh beda dari jawaban
ulama yg pertama tadi. Satu persatu ulama pun dipenjara akibat jawaban yang
mereka berikan tidak bisa memuaskan sang Menteri. Madrasah-madrasah pun mulai
sunyi akibat para ulamanya terpenjara. Hal ini kemudian jadi bahasan
dimana-mana. Setiap ulama berusaha untuk mencari jalan keluarnya.
Pada akhirnya seorang ulama datang
kepada sang Menteri untuk mencoba memberikan jawaban. Daud sang Menteri pun
bertanya kepadanya “ apa kesalahan Amr sehingga ia dipukul oleh Zaid dalam
contoh-contoh ilmu nahwu dan sharf ?
Ulama tersebut pun berkata “kesalahan
Amr adalah karena ia telah mencuri huruf waw yg seharusnya itu milik anda wahai
Menteri”.
“Maksudnya ?” tanya sang Menteri
sambil keheranan.
Ulama tersebut menjawab “ Amr (عمرو) telah mengambil huruf waw yang seharusnya
milik Daud ( داود ). Kata Daud mestinya
ada huruf waw untuk menguatkan harkat dlammah pada waw (maksudnya, semestinya
ditulis داوود ). Harkat dlammah
yang terdapat pada huruf waw nama anda (Daud) mestinya diiringi setelahnya
dengan waw, karena ia membutuhkannya. Tapi Amr telah mencuri huruf waw tersebut
walaupun sebenarnya ia tidak membutuhkannya (maksudnya, sebenarnya pada kata عمرو tidak perlu ada waw karena memang sama
sekali tidak berpengaruh) “.
Oleh karena itulah ulama bahasa Arab
memberi kuasa kepada Zaid untuk memukul Amr (maksudnya pada contoh yang masyhur
ضرب زيد عمرا
) sebagai hukuman karena ia telah mencuri huruf waw.
Sang Menteri pun merasa puas dengan
jawaban tersebut dan memuji sang Ulama. Ia lalu menawarkan hadiah kepada sang
Ulama “Silahkan kamu minta hadiah apa saja !”.
Sang Ulama berkata” Saya cuma minta
agar para ulama yang anda penjarakan dibebaskan semuanya”.
Maka Menteri itu pun mengabulkan
permintaan sang Ulama. Akhirnya semua ulama yang dipenjara dibebaskan serta
diantarkan kembali ke madrasah-madrasah mereka dengan hadiah.
Bakr dan Ali
Selain Zaid dan Amr, nama lain yang
sering dijadikan contoh dalam ilmu nahwu adalah Bakr (بكر)
dan Ali (علي). Bakr secara bahasa
berarti berpagi-pagi atau bersegera. Makna filosofisnya adalah agar para murid menjadi
orang yang semangat dalam menuntut ilmu, bersegera, tepat waktu, serta tidak
menunda-nunda dalam menuntut ilmu. Sedangkan Ali yang secara bahasa berarti
tinggi, maknanya adalah doa agar para murid ditinggikan derjatnya oleh Allah
karena ilmu yang ia pelajari.
*Dari beberapa sumber, di antaranya
yang masyhur adalah kitab al-Nazharat karya Syeikh Musthafa Luthfi
al-Manfaluthi.
0 comments:
Post a Comment
Silahkan beri komentar, masukan, kritikan